SENGAU videos

Ah seksi, Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku selain cerita sex seksi artis ML

Bisa lihat Ah seksi, Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku selain cerita sex seksi artis ML sehabis .

✪ Topik: Foto Bugil Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku paling baru dan seksi
✪ Kamu bisa mengunduh video sex Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku yang seksi, bisa pula nonton gambar tanpa busana Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku MP4 paling baru di SENGAU.COM
✪ Marilah nonton Kumpulan gambar seksi Kamu bisa video sex Terbaik bisa pula body semok tante Hobby ngocok konthol. FOTO Bugil Janda ngocok dan cerita sex Cewek Memek Kecil Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku cerita sex memek srtis tentu Hobby ML kerudung Cantik pamer toket. puki Payudara Gadis Sexy Onani Puas sex telanjang bispak Dengan toket super. Penginapan Wanita lezat memiliki sakit Ngecrot toket pastinya mantap ngocok toket kecil Kak Pembantu orang mupeng konthol. Ngocok ABG merangsang semok ngaceng sekaligus ML Mupeng Jilbab Buka Paha Tempik memuaskan Belajar begitu rambut seks Halus Ternyata selain super terdapat juga Model tante Panas bisa pula Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku memek mantap.

Herman belum pulang dari liburannya di Singapura, sehingga terpaksa aku dan Tono yang menjaga usaha pijat plus-plusnya ini. Teman yang lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka, cuma aku dan Tono yang menjadi orang kepercayaan Herman. Oya, namaku Satorman, aku sudah suka menceritakan kisahku dan kisah teman-temanku. Kali ini, aku, Tono, dan empat cewex teman kami yang standby di tempat ini, tempat pijit plus-plus yang masih sepi hingga hari ini. Hanya penambahan anggota baru dua hari yang lalu. Namanya Fenny, cewex keturunan yang bahenol, melebihi tiga teman cewex kami yang pribumi. Entah dasar apa yang menyebabkannya mau bekerja di sini, yang jelas aku menduga adalah himpitan ekonomi. Tapi lambat laun aku juga bisa mengorek informasi bertema alasannya.

Fenny, Ayu, Lisa dan Widya menunggu di bawah, siapa tahu ada konsumen yang masuk. Sedangkan aku dan Tono sedang asyik main playstation tiga yang baru saja kubeli dan ku simpan di kamarku. Sejak ikut Herman, aku tidak terlilit hutang lagi, bahkan aku tidak sulit mendapatkan uang, karena Herman selalu memberikan uang kepada kami, walaupun usaha sepi, dia tetap membayar gaji kami. Jam sudah menunjukkan pukul 22:00, tiba-tiba aku mendengar dering telepon, “Iya, ada apa?” tanyaku ketika mengangkat telepon di meja yang tersambung dengan telepon lantai bawah. “Ada masalah, turun bentarlah, ada polisi nih…” kata Ayu yang menelepon dari lantai bawah. Aku pun kaget mendengar ada polisi yang datang, apa ini razia? Aku segera ajak Tono untuk menuju ke bawah. “Gawat nich, semua suratkan ada sama Herman…” kata Tono.

Asli lebih terkejut lagi ketika kami sampai di bawah dengan apa yang kami lihat? Ada tiga polwan muda dan bahenol sedang berbicara dengan Ayu dan yang selanjutnya. “Selamat malam pak!” sapa salah satu polwan ketika melihat kami. Wajahnya bahenol sekali, rambutnya pendek dan postor tubuhnya semisal model, kulihat diseragamnya tertera namanya Felicia. Sedangkan dua polwan selanjutnya sedang berbicara sambil melirik-lirik kondisi tempat usaha kami. Mereka semisalnya baru, karena kulihat umur mereka mungkin baru menginjak 20 bisa pula lewat sedikit. “Iya, selamat malam, ada yang bisa kami bantu?” jawab Tono dengan sopan. “Maaf, ini kunjungan mendadak, kami mau lihat surat-surat pendirian usaha ini” kata polwan tersebut. Tono langsung terlihat pucat, semisal yang kami khawatirkan, usaha gelap ini begitu riskan. “Hmm, bos kita lagi tidak ada di tempat bu, surat menyuratnya ada sama ABGu, kalau ibu mau, nanti kalau ABGu sudah pulang, kita laporkan lagi?” kata Tono. “Kami mau lihat sekarang juga, masa buka usaha tanpa ijin?” sindir polwan selanjutnya yang tadinya sedang berbicara dengan Ayu, muka polwan tersebut terlihat judes sekali. “Oh, tunggu…” kata Tono. Lalu Tono mendekatiku dan berbisik padaku, “Mereka kayaknya minta jatah… Ambilin tiga juta lah buat mereka…” Mungkin juga mereka minta uang pelicin, jadi aku naik ke atas kembali ke kamar ku untuk mengambil sejumlah uang.

Samapi kembali di bawah, aku langsung menyodorkannya ke Felicia, polwan yang tadinya berbicara dengab kami. “Loh, apa ini maksudnya?” tanya polwan itu. “Kalian bermaksud menyogok kami?” tanya nya lagi. Kami semua terdiam melihat ketiga polwan itu sedikit marah. “Ayo ikut kami ke kantor polisi!” perintah Felicia. “Tapi?…” jawab Tono. “Berikan waktu agar kami bisa menelpon bos kami dulu…” pinta Tono. “Kau dan kau ikut!” perintah polwan itu sambil menunjuk kami berdua. “Tutup saja yu, nanti Ayu coba telpon bos Herman…” pesan Tono ke Ayu, dan kami pun digiring keluar. Kami disuruh naik ke mobil polisi yang dengan bak terbuka. Sial sekali, kami diperlakukan semisal penjahat, kami disuruh duduk di belakang dan dijaga dua polwan, sedangkan Felicia yang mengendarai mobil.

Untungnya sudah agak malam sehingga jalanan sedikit sepi, dan kami pun melewati jalan yang dikelilingi hutan, karena kantor polisi terletak agak jauh. Aku lihat raut wajah Tono begitu kesal, aku paham, kami malu sekali diperlakukan begini, andai Herman ada di tempat, tentu sajanya dia tak akan membiarkan kami begini.

Sesampai di kantor polisi, kami pun disuruh turun dan menemui atasan mereka. Seorang pria gemuk super dengan kumis tebal duduk santai di sebuah ruangan, semisalnya dia lah atasan di sini. Saat masuk, pria yang merupakan kapolsek daerah sini cuma tersenyum-senyum mendengar penjelasan polwan-polwan tersebut. Tak lama dari itu aku melihat pria berkumis tebal itu ditelpon seseorang, dan saat dia menutup telponnya, dia pun menyuruh kami pulang. Kini giliran polwan itu yang protes, “Tapi pak?…” semisalnya polwan tersebut tidak terima dengan keputusan polisi pria itu. “Antar mereka pulang, perlakukan mereka dengab baik…” itu saja yang dikatakan polisi pria tersebut tanpa mau berbicara super lagi.

Aku dan Tono baru merasa lega, kami pun kembali naik ke mobil itu layaknya penjahat, kami kembali harus dibawa di belakang. Sebelum naik, semisalnya Tono mendapatkan sms dari seseorang, sehabis membacanya dia pun menunjukkannya padaku. Itu adalah sms dari Ayu yang berisi: ‘Gw uda telp bos, nti tmn2 lain ada kejutan’. Sms yang begitu singkat, aku pun tidak tahu apa maksudnya.

Mobilpun mulai bergerak ketika kami naik. Masih tiga polwan tersebut yang menemani kami. Entah sial apa, pas sampai di tengah hutan yang harus kami lalui, tiba-tiba ban mobil bocor. “Waduh, mana gelap lagi nih… Tak bawa ban serap…” kata Felicia yang keluar dari mobilnya. Kami pun turun dari bak mobil, “Sial, siapa yang nebar paku begitu banyak?” kata Felicia sehabis mengecek ban mobilnya. Sepertinya ada yang menaruh ranjau paku di sepanjang jalan ini. Apa ini kejutan yang dimaksud Ayu? Soalnya siapa yang iseng menebar ranjau paku di sini? Tidak ada bengkel dekat sini, paling-paling perampok saja yang melakukan hal semisal ini di tempat sepi tengah hutan begini. “Tunggu di sini, kita cari tumpangan”, kata Felicia memandang ke ujung jalan yang gelap. Hanya terang bulan dan cahaya lampu dari mobil yang menyinari sekitar. Dan dari ujung jalan terlihat ada sinar, ada mobil yang menuju ke sini, Felicia pun maju berdiri di tengah jalan untuk menghadang mobil itu.

“Wah, mogok ya?” tanya seseorang yang menggunakan topeng dalam mobil tersebut ketika dihentikan Felicia. Tak sempat bertindak, tiba-tiba dengan secepat kilat, beberapa orang bertopeng turun dari mobil itu dan menyergap tiga polwan tersebut. Mungkin ada sekitar tujuh pria bertopeng yang langsung melumpuhkan tiga polwan tersebut. Para polwan itu tak bisa melawan karena kalah jumlah. “Ayo ikut!” pria bertopeng itu langsung menyeret tiga polwan tersebut masuk ke dalam hutan. Aku dan Tono tidak bisa berbuat apa-apa, kejadiannya begitu cepat, kami tak mungkin melawan, karena mereka membawa senjata tajam. Kami semua digiring masuk hutan, apa selanjutnya yang akan terjadi? Aku takut kawanan penjahat ini akan membunuh kami semua.

Sampailah kami di tanah yang sedikit lapang, ku hitung jumlah mereka… satu… dua… tiga… semua ada tujuh orang. Pria misterius bercadar itu semisalnya begitu brutal, mereka mengacungkan senjata mereka di hadapan kami. Aku, Tono, dan tiga polwan itu tak bisa berkutik, kami disuruh berlutut dengan tangan di kepala. Salah satu pria tersebut kemudian mendekati kami, kemudian menarik satu polwan ke depan. Empat pria lain menjaga kami agar tidak berontak, sedangkan tiga selanjutnya semisal akan melakukan terhadap polwan itu. “Cantik juga ya polwan ini…” ejek pria tadi yang menariknya, kemudian berdiri di depannya dan mengangkat dagu polwan tersebut. “Hmm, Eka…” pria itu membaca nama yang tertera di seragam polwan tersebut.

Dari barisan kami tampak Felicia berusaha melawan, tapi ia ditendang dari belakang oleh pria yang mengawasi kami, hingga ia tersungkur dan kesakitan. Sedangkan di depan kami, cuma bisa melihat aksi pria bercadar mengerjai polwan yang disebut bernama Eka tersebut. Aku lihat dengan jelas, walaupun penerangan cuma menggunakan senter dan mengharapkan sinar rembulan, pria bercadar yang menarik Eka tersebut memeluk Eka dan melumat bibirnya. Sedangkan dua selanjutnya cuma tertawa terbahak-bahak, dan empat selanjutnya masih mengawasai kami dari jarak yang begitu dekat. Felicia masih kesakitan akibat tendangan tadi, tapi dia sudah kembali ke posisi awal, berlutut dengan tangan di atas kepala.

Aku juga tidak ada niat untuk menolong para polwan tersebut, karena aku juga sudah terlanjur kesal dengan perlakuan mereka. Bahkan aku berharap para pria tak dikenal itu melakukan aksi yang lebih lanjut. Ternyata yang ku mau menjadi nyata, pria bercadar yang tadi melumat bibir polwan yang bernama Eka itu mendorong tubuh Eka hingga jatuh. “Beraninya menolak ciumanku?!” pria tersebut terlihat marah sekali. Eka lalu ditendang bagian perut hingga termuntah-muntah, kami cuma bisa diam, Felicia semisalnya agak geram melihat adegan ini. Polwan bernama Felicia kemudian kembali bangkit dan menantang mereka, “Kalau berani, ayo satu lawan satu!” ajak Felicia. “Hahaha, yang benar saja? Satu lawan satu?” para pria tersebut tertawa terbahak-bahak. “Apa kalian menangkap kami, para penjahat, juga ada pakai peraturan satu lawan satu? Kalian juga gerombolan, bahkan membawa senjata api…” kata pria bercadar yang tadi menendang Eka. Mereka juga semisalnya memiliki dendam yang super terhadap polwan ini.

“Akh!….” teriakan Felicia yang ditendang dari belakang hingga terseret ke arah Eka. “Bagusnya dibunuh bisa pula bagaimana?” tanya pria tadi pada kawan-kawannya. “Jangan dulu, sayang sekali kalau tidak dicicipi…” jawab temannya yang lain. “Hmm… Betul juga, kecantikan mereka seharusnya berguna…” Para pria yang menjaga kami mendekat ke arah kami dan menodongkan senjata mereka ke leher kami. Aku, Tono dan satu polwan lagi yang tidak tahu bakal diapakan oleh mereka. Kemudian pria yang menendang Eka mendekati Eka dan Felicia, “Turuti permintaan kami, bisa pula mereka MATI!!!” ancam pria tersebut. Nampak Felicia cuma bisa melotot kesal ke arah pria tersebut. Pria tersebut kemudian membuka resleting celana jeans nya, dan buah zakar super yang sudah mengeras pun tersembul keluar. “Ayo, kulum!” perintah pria itu. Karena Felicia mengkhawatirkan keselamatan kami, ia pun terpaksa mengulum buah zakar pria itu. Pria itu menjambak rambutnya agar Felicia lebih agresif, karena tadinya Felicia sedikit takut untuk menyentuhkan bibirnya ke buah zakar pria tersebut. Sama halnya dengan Eka, dia juga dipaksa untuk mengulum buah zakar pria bercadar selanjutnya. Felicia dan Eka tidak bisa melawan, karena nyawa kami kini tergantung dengan mereka.

Melihat dua polwan tersebut memberikan pelayanan begitu kepada dua pria bercadar itu, membuat buah zakarku mengeras. Nafsu ku naik hingga tak tertahan, ingin sekali aku mengocok buah zakarku sambil melihat adegan ini. Sungguh malang nasib mereka, rambut mereka yang cuma sebatas bahu dijambak untuk mengatur irama. Sedangkan polwan satunya yang berlutut di dekat kami terlihat menangis, dia tak sanggup melihat yang sedang terjadi. Hmm, bahenol juga, yang satu ini nganggur, andai saja dia men-service ku, hahaha, harapku dalam hati. Ku pandangi seragamnya yang ketat, toketnya terlihat agak super, dan namanya Olivia tertera di seragam, terlihat jelas akibat lekukan dadanya yang membusung ke depan. Ku pandangi teman sebelahku ini, Tono, ia terlihat melihat adegan tersebut, ia menonton tanpa mengedipkan mata, bahkan sesekali ia semisal menelan ludah.

Dua pria tersebut terus menggenjot mulut dua polwan itu, dua selanjutnya di dekat menunggu giliran, sedangkan tiga selanjutnya sedang mengawasi kami. Setengah jam ada buah zakar mereka dikocok dengan mulut polwan itu dan akhirnya mereka menyemburkan sperma juga. “Ayo ditelan!” perintah salah satu pria yang dikulum buah zakarnya itu. Awalnya Felicia mencobq memuntahkannya, namun pria yang dikulum buah zakarnya itu menampar pipi Felicia dengan kuat ‘Plak!’ “Mau lihat temanmu mati?” ancam pria tersebut. Sehingg Eka dan Felicia begitu dengan terpaksa menelan semua sperma yang disemprotkan ke dalam mulut mereka. Setelah itu selesai, dua pria itu pun berpindah, mereka memberikan tempat untuk dua pria lain yang sudah dari tadi menunggu giliran. Dua pria itu berdiri di depan Eka dan Felicia. “Kami belum mau dikulum, tapi mau mengenyot…” kata salah satu pria tersebut. Felicia dan Eka begitu kaget mendengar permintaan pria tersebut.

Mendengar itu, Olivia yang berlutut dekat kami pun bersuara, “Jangan… Tolong lepaskan mereka…” Tapi bukan mendengar permohonan Olivia, salah satu pria yang mengawasi kami pun langsung menjambak rambut Olivia, “Lu mau ikutan mereka?!” kata pria tersebut. Olivia pun menangis dengan kencang. “Jangan… Biar saya saja…” kata Felicia yang dengan perlahan membuka kancing bajunya. “Loh, polwan yang satu ini mau lihat temannya mati?” tanya satu pria melihat ke arah Eka yang sedari tadi cuma terdiam saja. Takut dengan ancaman pria tersebut, Eka pun mengikuti apa yang dilakukan Felicia. Kedua polwan tersebut pun membuka seragam mereka, ku lihat bra warna putih mereka menutupi buah dada mereka yang bulat sempurna, tidak super juga tidak kecil. “Ah, lama!” pria satu terlihat komplain, sehingga Felicia dan Eka pun terpaksa mempercepat membuka bra mereka. Penisku sedari tadi sudah ngaceng bukan main, apalagi melihat toket yang mengacung ke depan, bulat sempurna, baru kali ini aku melihat tubuh indah polwan. Dua pria yang tadi di depan Felicia dan Eka langsung dengan bringas melumat buah dada yang indah itu. Mereka semisal kesetanan, mengenyot buah dada itu, memeras, menampar, menggigit dan memainkannya. Puting yang kecil dan merah mudah dua polwan tersebut dipilin-pilin dengan jari, bahkan sesekali ditarik-tarik. Felicia dan Eka semisalnya menangis, mata mereka terlihat berbinar, mereka tentu malu diperlakukan semisal itu.

Olivia tak mampu melihatnya, dari tadi dia cuma memalingkan wajahnya, sedang Tono sedari tadi tidak mau melewatkan adegan ini. Aku sebenarnya iri sekali tidak bisa melihat tubuh polwan tersebut. Setelah bosan melihat payudara segar milik polwan, kedua pria itu meminta dua polwan itu mengulum buah zakar mereka. Sedangkan dua pria yang tadi dikulum buah zakarnya mendekati kami, “Tunggu di sana saja biar dapat giliran…” mereka meminta tiga pria yang mengawasi kami mendekat ke Felicia dan Eka untuk antri menunggu giliran. “Ga sabar ne bos, pengen disepong polwan juga ne…” kata salah satu pria yang menuju ke arah Felicia dan Eka, ia terlihat senyum kegirangan.

Felicia dan Eka kembali sibuk dengan mengulangi tugasnya tadi, mereka harus mengulum buah zakar kedua pria bercadar itu. Tiga selanjutnya sudah tak sabar menunggu giliran, antrian belum sampai saja tiga-tiganya sudah membuka resleting celana jeans mereka dan mengeluarkan buah zakar mereka yang sudah ngaceng.
Seperti halnya tadi, Felicia dan Eka kembali disuruh untuk menelan habis sperma yang telah mereka semprotkan ke dalam mulut Felicia dan Eka. Tiga pria yang tadi antri terlihat berebutan, karena cuma dua polwan saja yang sedang bertugas, terpaksa satu pria harus mengalah. Dua pria kembali meminta Felicia dan Eka mengulum buah zakar mereka. Satu pria yang tadi mengalah cuma bisa memainkan buah zakarnya sendiri, “Ga apa-apa, nanti saya minta diservice dua polwan sekaligus deh…” katanya yang terlihat malu karena kalah dari perebutan. Kembali lagi Felicia dan Eka harus menelan habis sperma dua pria selanjutnya tadi. Mereka terlihat mau muntah, masing-masing telah menelan sperma dari tiga orang pria. Akhirnya pria yang tadi kalah dari perebutan pun maju, ia nampak begitu senang, walaupun giliran terakhir, namun ia lebih spesial karena bisa dilayani dua polwan sekaligus.

“Kalian tentu sudah eneg ya minum sperma?” ejek pria tersebut. “Kalau kalian tidak mau minum sperma lagi… Menarilah untukku…” minta pria tersebut. Dua polwan itu tidak mungkin menolak, apapun yang diperintahkan para pria tak dikenal ini haruslah dituruti. Dua polwan tersebutpun terpaksa menari, tanpa busana penutup atas, sehingga buah dada mereka yang bulat terlihat jelas. “Celana nya di lepas dong, gue mau lihat memek kalian…” kata pria tersebut. Kedua polwan itu belum menurutinya, mereka masih menari dengan mengenakan celana abu-abu gelap mereka yang sedikit ketat. Merasa tak didengar, pria tersebut melepas ikat pinggangnya, ‘Plak’ ‘Plak’ dibesutnya ikat pinggang terssebut ke arah mereka. Dengan mata berlinang air mata, mereka pelan-pelan menurunkan celana mereka. Waw, tak sabar aku pun ingin sekali melihat kemaluan milik polwan. Tono pun masih tidak berkedip dengan apa yang ia tonton, sifat hypersexnya memang sudah lama di-idapnya.

Setelah melorotkan celana mereka, celana dalam berwarna pink mereka pun pelan-pelan ditarik turun. “Sungguh indah…” kata pria tersebut melihat kemaluan dua polwan yang segar itu. Tempik mereka tanpa rambut, mungkin selalu dicukur mereka agar terlihat lebih bersih. “Sini, hisap kontholku!” perintah pria itu. Dua polwan yang sudah tanpa busana bulat itu pun maju dan berlutut di depan pria itu. “Ga usah rebutan, sini gue mau netek juga…” kata pria tersebut. Felicia kemudian bangkit dan menyodorkan buah dadanya kepada pria itu, sedangkan Eka bertugas mengulum buah zakar pria tersebut. Payudara Felicia terus dikenyot dengan kasar, hampir setengah jam pria itu dilayani dua cewex, ia pun merasa bosan, “aku mau sex…” katanya. Mendengar kata itu, dua polwan tersebut kaget. Mereka semisalnya tidak terima dan mengambil sebuah tindakan. Pria tadi ditangkap Felicia dan Eka, “Lepaskan kami, bisa pula pria ini mati!” ancam Felicia yang tadi dengan cekatan menangkap pria di depannya. Suasana menjadi hening seketika. Namun suara tertawa pun memecahkan keheningan, “Hahaha, kalian pegang satu nyawa, sedangkan kami pegang tiga nyawa…” kata salah satu pria yang mengawasi kami. “Mau mereka mati?” tanya pria tersebut.

Aku sedikit iba melihat semua ini, aku pun coba untuk menengahi, “Biar saya jadi sandera saja, tapi lepaskan mereka…” pintaku. “Wah, mau jadi pahlawan di malam buta begini?” kata pria tadi yang kemudian mendekatiku. Ia terlihat marah sekali, dan langsung mendekatkan belatinya di leherku. “Buka celanamu!” teriak pria itu. Spontan saja aku kaget dan ingin melawan, tapi tubuhku didorong hingga tersungkur. “Biar saja semuanya mati…” kata pria itu. Terpaksa aku pun membuka celanaku hingga celana dalamku. “Dengar, kalau kalian tidak mau mendengar perintah kami, maka konthol orang ini akan saya potong!” ancamnya sambil mengarahkan belatinya ke buah zakarku yang sudah mengeras sedari tadi. Jantungku berdetak dengan kencang, hampir pingsan aku dibuatnya ketika mendengar buah zakarku akan dipotong. Dua polwan yang melawan tadi pun terdiam, pria-pria lain mendekati mereka dan memukuli mereka. Dua polwan tersebut ditampar dan ditendang oleh beberapa pria. Sedangkan pria tadi yang sempat ditangkap oleh dua polwan itu terlihat begitu marah. “Aku tak akan mengasihani kalian lagi!” katanya. Kemudian ia bangkit dan menuju ke arah kami, ia mendekati polwan yang berlutut dengan kami. Polwan yang bernama Olivia tersebut kemudian dijambak rambutnya dan ditarik kemudian dilemparkan ke arahku, hingga wajah sang polwan tersebut tepat bertema buah zakarku. “Hisap!” perintah pria tersebut. Waw, kejutan yang indah kataku dalam hati.

Aku diposisikan keadaan yang begitu sulit, satu sisi aku sudah begitu nafsu, di sisi lain aku kasihan melihat kemalangan yang menimpa para polwan tersebut. Aku coba menghalangi, “Jangan…” kataku. Lalu pria tadi yang mengancam akan memotong buah zakarku kembali mengancam lagi, “Peler lu mau gue potong ya?!” Aku pun cuma yerdiam ketakutan. Olivia kemudian dengan berderai air mata mencoba mengulum buah zakarku. Tono terlihat tak terima, ia berteriak “Hentikan semua ini!” Aku yakin Tono berpura-pura melawan karena ia iri dengan apa yang ku alami. Besar dugaanku adalah bahwa Toni juga ingin diperlakukan semisal ini. “Dasar kerempeng!” pria lain mendorong Tono hingga jatuh. Pria itu mendekatkan belati ke arah Tono, “Lu mau coba jadi pahlawan juga??” tanya pria itu. Tono pun kemudian terdiam. Di arah lain, ku lihat Eka dan Felicia sudah dikerumuni lima pria bercadar, mereka bergantian menggauli dua polwan itu.

Dua pria lain masih mengawasi aku, Tono dan Olivia. Dari tadi buah zakarku dikulum oleh Olivia, tubuhnya terlihat gemetar sekali, kulumannya pun tidak begitu erat, ia mungkin belum pernah melakukan ini. “Hey lu! Bantu polwan itu buka seragam!” perintah pria yang mengawasi kami kepada Tono agar Tono membuka seragam Olivia. Tono tetap terdiam tak mau bergerak, ja’im banget, padahal dia begitu terobsesi dengan adegan semisal ini. “Oi, mau mati lu?!” ancam pria itu menunjukkan belatinya. Tono pun kemudian menuju arah kami. Olivia menghentikan kulumannya karena sudah ketakutan akan dibugili. Melihat begitu, dua pria yang mengawasi kami terlihat marah, “Dasar tak berguna!” Mereka berdua kemudian menangkap Olivia, tangan dan kaminya ditangkap mereka, “Hei kalian, cepat buka dan kenyot toketnya!” perintah dua pria itu kepada aku dan Tono. Dengan perasaan serba tidak lezat, aku dan Tono pun membuka seragamnya Olivia, kancing bajunya satu persatu kulepas, sedangkan Tono melepas celana super berwarna abu-abu gelap polwan itu. Bra putih sudah terlihat, aku sudah tak sabar ingin melihat payudara polwan ini, bagian bawah kulihat Tono juga sudah berhasil melepas celana Olivia hingga terlihat celana dalam berwarna merah muda yang penuh dengan gambar bunga. “Cepat! Atau polwan ini kami bunuh!” ancam dua pria itu. Aku langsung gelagapan karena kaget mendengar suara dengan nada keras pria tersebut. Bra Olivia ku angkat ke atas hingga terlihat bukit kembarnya yang semakin merangsang saya.

Kini tubuh Olivia sudah tanpa busana tanpa balutan sehelai benang pun. Dia berusaha berontak untuk melawan. Aku tersejenak karena sedikit tidak tega melihat Olivia yang tak berkutik dipegangi dua pria bercadar. Berbeda dengan Tono, kulihat dia sudah menciumi selangkangan Olivia, sekitar pukinya begitu bersih tanpa rambut. Tapi bagaimana aku bisa mengenyot toketnya, toh dua pria bercadar yang memegangi Olivia berebutan menjamah dan memeras toket Olivia yang bulat indah itu. Satu pria bercadar itu menjambak rambut Olivia dan menyuruh aku mendekatkan buah zakarku ke arah Olivia. “Kalau lu uda nyaman, lu ga bakal belain mereka, liat kawan lu tuh!…” kata pria itu. Olivia pun kemudian mengulum buah zakarku, begitu nikmat sekali. Olivia sudah tak berkutik, toketnya kemudian dikenyot dua pria bercadar, sedangkan pukinya terus dijilati oleh Tono.

Penisku terus dikulum Olivia yang memerah mukanya, ia cuma menutup matanya walaupun terus menangis. Sedangkan dua temannya, Felicia dan Eka, sibuk melayani lima pria bercadar selanjutnya yang memperkosa mereka secara bergiliran. Dari arah sana kudengar suara memohon ampun, Eka dan Felicia mungkin tak sanggup melayani lima orang pria yang kesetanan itu.

Setelah selesai menyetubuhi Eka dan Felicia, lima pria itu tidak terlihat lelah sama sekali, malah mendekat ke arah kami dan minta jatah Olivia. Aku dan Tono pun disuruh minggir, karena takut disakiti, aku dan Tono pun menyingkir. “Tuh, dua mainan sono, nikmati saja sebelum kalian kami bunuh!” kata salah seorang pria yang mendekati kami, dia memerintahkan kami menyetubuhi Felicia dan Eka. Kupandangi ke arah sana, Eka dan Felicia sudah tidak bergerak, mereka sudah pingsan, dengan kaki yang masih mengangkang terlihat jelas puki mereka yang belepotan cairan sperma. Aku tidak tega melihat begitu, namun Tono menarik tanganku untuk mendekati dua polwan itu.

Tono terlihat begitu nafsu sekali, ia langsung membuka semua pakaiannya dan langsung memasukkan buah zakarnya ke dalam lubang puki Eka. “Tuh si Felicia nganggur”, katanya. Bodoh amat pikirku, toh polwan ini sudah tidak sadarkan diri, aku pun kemudian meremas-remas toket Felicia yang menggemaskan. Wajahnya yang bahenol begitu menarik perhatianku, ingin sekali kuciumi wajahnya, tapi aku sedikit geli dengan sperma yang menempel di sekitar bibirnya, jadi ku urungkan niatku itu. Akhirnya sehabis puas meremas toket Felicia, aku pun mencoba memasukkan buah zakarku ke dalam pukinya. Penisku yang dari tadi mengeras dengan kondisi resleting yang terbuka, sudah tak sabar mencari labuhannya. Aku dan Tono pun menggenjot dua polwan yang sudah pingsan tersebut.

Sambil menggenjot Felicia yang tidak sadarkan diri, aku mendengar rintihan minta ampun di kumpulan sana, kumpulan tujuh pria melawan satu cewex perempuan. Olivia telanjang terus disiksa, tujuh pria tersebut bergiliran melihat setiap lubangnya, dari mulut, puki, hingga lubang anusnya dimanfaatkan. “Saakkiiiii…ttt…tt…..” rintihan terus terdengar, rambutnya dijambak, pipinya ditampar, puting toket nya digigit, begitu malang sekali nasibnya, malah lebih malang dari nasib kedua temannya ini. Hampir satu jam aku menyetubuhi tubuh Felicia yang pingsan, dan aku pun menyemprotkan sperma hangatku di dalam puki Felicia, begitu nikmat sekali, sampai aku tak mau mencabut buah zakarku, dan aku cuma beristirahat memeluk Felicia. Aku lihat Tono pun sudah mencapai titik klimaknya, sehabis menyembutkan spermanya, Tono pun mencabut buah zakarnya, tapi ia tidak terlihat lelah. “Man, minggir dong…” pinta Tono, semisalnya dia ingin melihat Felicia juga. Gila, pikirku, Tono memang memiliki nafsu yang melebihi manusia normal, walau sudah ber-ejakulasi berkali-kali, ia masih tak mau melepaskan kesempatan semisal ini. Demi kepuasan teman, aku pun mengalah, aku menepi untuk beristirahat sejenak. Ku lihat tujuh pria bercadar juga masih bersemangat mengerjai Olivia, bahkan pria-pria itu berkata akan berpesta dengan tiga polwan ini hingga pagi hari.

“Man… Bangun man…” aku terlelap dan Tono membangunkanku, kulihat ke langit sudah terang. Aku tidak tahu semalam para penjahat bercadar memperkosa Felicia, Eka dan Olivia hingga berapa ronde, yang jelas aku melihat arloji ku sudah menunjukkan pukul 06:12. Muka Tono sedikit memar, semisalnya ia dipukuli para penjahat itu. Aku lihat Eka sibuk memakaikan pakaian pada Olivia yang pingsan. “Polwan yang satu lagi mana?” tanyaku pada Tono. “Dia ke mobil cari bantuan…” kata Tono yang megangi pipinya yang lebam. “Woi! Bantu kita!” teriak Eka. Aku dan Tono pun kemudian membantu Eka memapah Olivia agar keluar dari hutan ini. Sampai di depan, aku lihat sudah ada mobil patroli yang lain di tepi jalan. Beberapa polisi pria langsung mendekati kami dan mengendong Olivia.

Kami pun masuk ke dalam mobil patroli dan segera dibawa ke kantor polisi. Namun sebelum ke kantor polisi, kami dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Aku dan Tono tidak mengalami luka yang serius, cuma luka memar di pipi Tono yang diberi sedikit obat semacam salep. Sedangkan para polwan mengalami luka serius, puki mereka sobek karena diobok-obok paksa oleh para penjahat itu. Olivia pun terpaksa harus rawat inap karena dia masih pingsan. Aku dan Tono dengan polwan lain pun dibawa ke kantor polisi sehabis dirawat beberapa jam. Kami disuruh membuat laporan dan menjadi saksi atas kejadian tersebut. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehabis aku tertidur, namun Tono menjelaskan bahwa dia dipukuli para penjahat itu saat ia memohon agar tidak membunuh kami semua.

Namun hingga sekarang ke tujuh pria bercadar tersebut belum diketahui identitasnya. Polisi yakin bahwa mereka adalah residivis yang memiliki dendam dengan para polwan itu. Karena tidak ada bukti yang lebih akurat, polisi tidak meneruskan penyelidikan. Selain penjahat itu bercadar, mereka pun menggunakan sarung tangan, tidak ada sisa jejak mereka kecuali sperma-sperma kering yang melekat di tubuh para polwan.
3gp seks indo, 3gp, sex indo, 4gp sex indo, 4gp seks indo, Foto Artis Indonesia Bugil Bugil, Foto Hot Artis Bugil, Video Mesum Artis Indonesia, Video seks Artis Indonesia, Foto Oriental Artis Bugil , Foto Artis Seksi Dunia, Foto Topless Artis Bugil, Foto Bugil Artis Dunia, Foto Bugil, 3gp sex indonesia, 3gp sex indonesia, mp4 sex indonesia, mp4 seks indonesia, 4gp sex indonesia, mengunduh video sex indonesia paling baru, video gambar artis indonesia tanpa busana paling baru, video gambar artis indonesia tanpa busana, sex melayu, sex indonesia, ABG tanpa busana, cewex tanpa busana, buka perawan, seks melayu, seks indonesia, cerita seks paling baru, cerita seks artis indo, cerita sex artis indonesia, cerita sex 17 tahunku, cerita seks 17 tahun, erita seks paling baru, cerita seks anak kuliah, cerita sex anak kuliah, cerita seks mahasiswa, cerita seks bispak, cerita sex mahasiswa, cerita sex bispak, cerita seks anak kost, cerita sex anak kost, dan cerita 17 tahun anak 17 tahun

☞ Perhatian dimaklumkan kepada tante sex, bispak seksi dengan lelaki konthol super, video sex Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku tentu cumalah untuk hiburan belaka. administrator minta ampun bila kata video bisa pula gambar kamu yang bersangkutan muncul, administrator tidak ada niat melecehkan.

☞ selamat melihat gambar tanpa busana bisa pula video sex Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku di SENGAU.COM, website sex kesukaan kamu. cobalah untuk melihat tulisan selanjutnya yang asyik diamati semisal video tante toket super tanpa busana, video bispak ABG cute ngocok konthol super, gambar memek ABG bahenol tanpa busana selain mengunduh video sex kerudung Hobby sex seksi paling baru bisa pula juga tulisan ABG disetubuhi kesakitan dan foto tanpa busana Cerita Seks Bergambar – Polwan Dan Aku di website cerita seksi SENGAU.COM tentulah paling baru.

Comments are closed.


  • ngentot
    FILM SEX